• SMA NEGERI 1 MANGGAR
  • Totality Is The Key To Quality

Kisah Sukses Sabarudin, Tak Asing di Dunia Pendidikan Beltim Toreh Prestasi di Level Internasional

"Orang pintar melakukan apa yang biasa orang lakukan. Orang cerdas lebih pintar dari orang pintar, namun orang jenius memikirkan apa yang tak pernah dipikirkan orang lain."

 

BARU-baru ini empat siswi SMA Negeri 1 Manggar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) mencatatkan prestasi gemilang dalam Liga Olimpiade Pelajar ke-15 Nasional. Ajang tersebut digelar secara daring karena masih dalam masa pandemi Covid-19.

Adalah Fidiatun Nofus, siswi kelas XII menyabet juara I bidang ekonomi. Selanjutnya juara III dipersembahkan Angelique Johanes bidang geografi dan fisika atas nama Adelia Nur Sandrina. Kemudian Brenda Christy peringkat V bidang ekonomi.

 

Keberhasilan mereka tidak luput dari dukungan berbagai pihak serta guru-guru pembimbing. Termasuk juga kepala sekolah (kepsek) tentunya.

Saat ini Kepala SMAN 1 Manggar dijabat Sabarudin. Sosok ini sudah tak asing lagi dalam kancah pendidikan di Beltim. Berbagai prestasi telah ditorehkan bahkan hingga level internasional.

Seperti apa sepak terjang Sabarudin mengarsiteki sekolah maupun kariernya pribadi sejauh ini? Berikut wawancara eksklusif Wartawan Pos Belitung Bryan Bimantoro, Jumat (24/7).

T: Ceritakan secara singkat awal menjadi tenaga pendidik hingga kemudian diangkat sebagai kepsek?

J: Saya jadi PNS sejak tahun 2000 dan ditempatkan pertama di SMP Negeri 2 Gantung karena saat itu hanya ada satu unit gedung baru. Waktu itu perekrutan PNS hanya dilakukan ketika ada unit gedung baru. Jadi waktu itu jumlah guru sekitar 11 orang ditempatkan semua di SMP itu.

Tahun 2005 saya dimutasi ke SMA Negeri 1 Manggar. Lalu tahun 2008 saya dapat beasiswa S2 di Universitas Pendidikan Indonesia dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan lulus pada tahun 2010. Alhamdulillaah lulus dengan predikat cumlaude.

Alhamdulillaah saya satu-satunya di Babel yang dapat beasiswa itu, karena setelah angkatan saya beasiswa itu dikhususkan hanya untuk pegawai LPMP.

Setelah tamat tahun 2010, saya ikut tes kepala sekolah dan lulus. Tahun 2011 saya ditempatkan di SMA Negeri 1 Simpang Pesak. Kemudian pada September 2012 saya dimutasi lagi ke SMA Negeri 1 Gantung, lalu pada September 2019 dimutasikan lagi ke SMA Negeri 1 Manggar.

Selama menjadi guru saya pernah mendapatkan predikat Guru Berprestasi pada tahun 2011 dan mewakili Babel di tingkat provinsi namun belum beruntung waktu itu hanya menjadi finalis.

Lalu pada 2014 saya mengikuti Forum Ilmiah Guru tingkat provinsi dan menang lalu mewakili Babel ke tingkat nasional, alhamdulillaah menang di kategori Pemanfaatan Teknologi Informasi.

Tahun 2015 saya mengikuti lomba kepala sekolah berprestasi dan alhamdulillaah bisa dapat juara 2 tingkat nasional mewakili Babel.

Selama 9 tahun saya jadi kepala sekolah, alhamdulillaah pemerintah daerah dan Kemendikbud mengapresiasi kerja keras saya. Tahun 2014 saya dikirim dari Pemda Beltim kerjasama dengan British Council ke ajang pelatihan kepala sekolah se-Asia di Malaysia. Tahun 2016 juga saya diberi kesempatan mengikuti short course di Korea Selatan dan terakhir tahun 2019 short couse di Australia dikirim dari Kemendikbud.

Selain kepala sekolah, saya juga aktif di berbagai organisasi, seperti menjadi Ketua Wilayah Babel Asosiasi Guru Penulis Indonesia, Ketua Ikatan Alumni IKIP Bandung wilayah Babel, Direktur Rumah Produktif Babel, aktif di PGRI, pernah aktif juga di KNPI, di Wakasbangda Babel, dan aktif dalam kegiatan penulisan. Alhamdulillaah saya sudah menulis beberapa buku, jurnal, serta media.

T: Sebelum Smansa Manggar, Anda tenar di Smansa Gantung, apa saja yang Anda lakukan?

J: 2012 saya masuk SMA Negeri 1 Gantung sebenarnya krisis prestasi. Saya sebagai kepala sekolah tugas pertama menganalisis kelemahan dan potensi. Saya harus bisa memetakan potensi yang bisa dikembangkan dan menutup kelemahan yang ada.

Awalnya dibangun komitmen, sekolah itu kerja tim. Kepsek hebat, guru hebat, tapi orang tua dan murid tidak terlibat sekolah tidak maju. Sehebat apapun program jika tak bersinergi, tidak akan berhasil.

Kedua, yang paling penting itu memberi rasa percaya diri. Karena saya melihat di SMA Negeri 1 Gantung, ketika rasa PD tak muncul prestasi jadi hilang. Orang pintar ketika pintar secara intelektual, jika tak PD jadi biasa saja. Justru kalo orang biasa, pintar biasa, dan tapi dia PD malah bisa berprestasi dengan baik. Setelah saya analisis kekuatan dan kelemahan, saya bangun rasa PD mereka.

Ketiga, tak bisa lepas yakni sinergi dengan masyarakat. Alhamdulillaah selama tujuh tahun di sana banyak prestasi di luar ekspektasi. Dulu tak pernah juara kabupaten apalagi provinsi, sekarang malah jadi langganan. Sudah pernah juara nasional dan internasional.

Ternyata sukses siswa diikuti sukses guru. Guru menang berbagai kompetisi, saya sebagai kepsek bisa menang lomba kepsek.

Kemudian membuka ruang dialog dan memberi ruang ide kreatif, baik kepada siswa maupun guru. Saya sudah belajar di banyak tempat, ide-ide tak akan bisa tereksekusi dengan baik ketika tak ada dialog dan komunikasi. Ada kalanya kepsek harus tegas, tidak semua, ada bagian-bagian tertentu, ruang dialog sangat penting.

Upaya saya pertama yakni membranding SMA Negeri 1 Gantung. Di Gantung ada icon SD Muhammadiyah Gantung, kami ingin mejadi transformasi ala kekinian, bicara laskar pelangi, ini loh SMA Negeri 1 Gantung. Kebetulan posisinya pas, di Gantung juga. Dan alhamdulillaah branding itu tak sia-sia.

Branding SMA Negeri 1 Gantung saat jaman saya adalah PDKT yaitu Peduli, Disiplin, Kerjasama, dan Tanggungjawab. Kenapa? Karena saat itu kelemahannya kurang PD.

Branding PDKT saya populerkan saat pelatihan kepsek di aussie jadi saya dijuluki Mr. PDKT saat itu. Kelihatannya ringan, tapi sekolah itu perlu branding. Jadi kalau pengin tahu SMA Negeri 1 Gantung, ya PDKT.

Kedua, Apresiasi. Kita apresiasi siswa setiap tahun ada SMA Negeri 1 Gantung Education Award. Penghargaan itu diberikan pada siswa, guru, kepsek yang berprestasi luar biasa, mengharumkan nama sekolah, baik level kabupaten sampai nasional. Karena bagi saya apresiasi itu tidak harus dengan uang, kami buat plakat dam piagam untuk memacunya.

Ini saya katakan dalam kegiatan Dialog Guru di Istora Senayan 2015. Ditanya, "apa yang bisa diberikan kepada guru dan siswa?". Saya bilang SMA Negeri 1 Gantung itu unik. Satu-satunya yang ada award, sekarang saya bawa juga ke SMA Negeri 1 Manggar, namanya Smansa Stars. Sepele kelihatannya tapi syarat untuk dapat penghargaan itu ketat.

Tak ada prestasi tak bisa. Khusus guru minimal bawa 2 kali siswa ke nasional. Berarti dia ajeg. Kalau kata orang Belitung jika sekali itu namanya 'ketepangan' alias kebetulan. Ada standarnya tapi juga diapresiasi.

Khusus kalau di SMA Negeri 1 Gantung, waktu jaman saya satu-satunya sekolah di Babel yang paling sering dikunjungi sekolah lain. Karena mungkin orang penasaran. Saya membangun SMA Negeri 1 Gantung dengan mengajak semua elemen untuk melihat sekolah terbaik di Indonesia dan luar negeri. Karena itu dulu kunjungannya bukan hanya UGM, UI, UNPAD, UPI, tapi juga ke Sngapura, Malaysia, Thailand, malah ke China terakhir. Program sekolah untuk membangkitkan rasa percaya diri tadi.

Hasilnya, selama tujuh tahun saya di sana, SMA Negeri 1 Gantung termasuk kategori mapan dan diperhitungkan. Saya sering mengatakan tak kan berhasil dengan baik ketika siswa, guru, ortu, masyarakat itu tak dukung.

T: Khusus Smansa Manggar, potensi apa yang belum dimaksimalkan baik akademis maupun non akademis?

J: SMA Negeri 1 Manggar kita belum total. Branding SMA Negeri 1 Manggar sekarang Totallity is the Key of Quality. Setiap masuk sekolah, saya analisis potensi keunggulan dan kelemahan. Branding ini terdiri dengan empat keunggulan, yakni spiritual, moral, intelektual, dan sosial.

Spiritual, masjid ada kegiatan rohis tapi dalam tataran biasa, kita ubah menjadi luar biasa. Doa, salat duha, salat zuhur jamaah, sampau ceramah kultum 7 menit. Spiritual dibangun dibuka dengan doa ditutup dengan doa. Sekarang kecerdasan sipiritual sudah hilang rohnya. Kalau pengin berprestasi masjidlah sumbernya. Kita semarakkan masjid kita. Kegiatan keagamaan, yang biasa-biasa saja kita buat istimewa. Ini yang akan dibangun.

Moral. Kami ada program pin biru yaitu pin siswa teladan jadi siswa yang pakai pin biru itu adalah siswa teladan. Pin itu untuk membentengi diri dan mengingatkan jaga nama almamater. Kalau melakukan pelanggaran berubah jadi pin kuning. Kalau melakukan pelanggaran berat jadi pin merah. Ini etika dibangun. Muliakan adat, setelah agama, etika itu penting. Takut anak kita tak pintar, tapi orang tua jarang khawatir kalo anak tak beradab.

Ketiga, intelektual. Sudah bagus, namun apresiasi kurang. Kite apresiasi sekarang. Mulai tahun kemarin mungkin satu-satunya sekolah pada hari guru memberi award. Kita ada pemilihan guru inspiratif, kebetulan saya menang dan yang milih adalah siswa, tak bisa direkayasa. Kenapa guru inspiratif karena paling tinggi inspiratif. Kalau transfer of knowladge, semua orang bisa. Menjadi teladan bagi orang lain. Kita akan terus dorong untuk ini. Insyaallaah dengan branding Totallity is the Key of Quality sudah keliatan sekarang progresnya, alhamdulillaah. Sudah ada yang juara nasional dan akan menerbitkan 6 buku dalam waktu dekat.

Terakhir, sosial. Ini penting karena kita makhluk sosial. Jadi harus bagaimana caranya untuk dekat dan peka terhadap limgkungan sosial di sekitar kita. Terakhirz dalam kegiatan MPLS kemarin siswa disuruh bawa minyak, beras, ataupun sembako lainnya. Nanti barang-barang itu dikumpulkan dan dibagikan kepada masyarakat yang terdampak covid-19. Kecil tapi bisa meningkatkan awareness mereka terhadap lingkungannya.

Yang paling penting, dari empat itu jangan lupa media penting. Sebanyak apapun prestasi kita kalo tak diberitakan jadi sia-sia. Itu juga sebuah bentuk apresiasi. Dan mereka akan berlomba-lomba untuk dapat apresiasi media tersebut.

T: Anda menyebut rujukan pendidikan yang baik adalah sekolah yang berada di kampung bukan kota, mengapa demikian?

J: Di kampung atau desa sangat menjunjung tinggi kearifan lokal. Masih ada pengin yang berkunjung kalau ada yang sakit atau berduka. Kita masih ada rasa peduli kalo di kampung. Kedua di kampung proses itu penting bukan hasil. Nem tinggi tak tahu gimana prosesnya, di kampung dak pakai kunci jawaban, bocoran soal, dan lainnya, kejujurannya tinggi. Di kampung tidak terkontaminasi dengan yag macam-macam.

Kita nakal dalam tahap wajar belum dikategorikan berat. Ini seperti yang kukatakan di Australia, kiblat pendidikan harusnya di kampung. Kalau anak dapat nilai 9 itu asli. Asli proses belajar yang benar tidak ada bocoroan soal dan lainnya. Itu rohnya. Nilai-nilai kearifan lokal itu luar biasa. Di kota kalau rapat orang tua bukan orang tua yang datang sehingga kadang sulit mencapai komunikasi antar orang tua dengan tujuan sekolah.

Mendidik bukan masalah angka. Mendidik juga bicara mengenai nilai-nilai kebaikan, karakter, kerjasama, gotong royong. Kalau hanya dapat nilai tertinggi tapi akhlak dan prosesnya tidak benar ya susah juga. Makin kampung makin mantap.

J: Berbagai prestasi sudah diraih, baik individu, sekolah, maupun atas nama siswa yang menyabet juara berbagai lomba, perasaan Anda?

J: Senang dan terkejut. Saya di Gantung membangun jujur saja tahun kedua baru bangkit. Ini cepat di SMA Negeri 1 Manggar. Di sini semua berkumpul. Guru-guru, siswa-siswa, dalam waktu setahun guru produktif, siswa juga.

Saya juga saat ini sedang mengarah ke bagaimana memberdayakan OSIS. Karena jika OSIS terberdaya maka siswa akan maju. Di Gantung OSIS berjalan dengan baik. OSIS baik, guru terbantu. OSIS mau diberdayakan, akan kita beri ruang gerak.

Syukurlah di luar ekspektasi kurang dari setahun. Menjaga ritme tidak mudah. Harus kerja keras. Yang terpenting membangun komitmen dan komunikasi. Kita harus berkaca dengan pengalaman.

Saya tak anti dengan namanya inovasi dan kreasi. Jika sudah berhenti itu, kita mati. Kemudian saya juga sering mengatakan dengan guru, tidak usah bicara mutu ketika kebutuhan guru untuk mengajar tidak dipenuhi dan kebutuhan siswa untuk belajar tidak dipenuhi. Gimana guru mau ngajar kalau buku tidak ada. Semua akan terpenuhi ketika ada komunikasi.

Saya menetapkan empat keunggulan, berarti saya harus melengkapi fasilitas keungggulan itu. Karena sudah berbasis IT saya siapkan sarana belajar ratusan PC termasuk akses internetnya. Ini upaya yang akan terus dilakukan.

T: Dari sekian banyak capaian tersebut, mana yang paling berkesan, mengapa?

J: Menulis 6 buku. Itu yang belum pernah dilakukan. Saya satu, guru tiga, dan dua buku ditulis siswa. Istimewanya buku itu dibangun dari kelas-kelas literasi. Kelas literasi sosiologi, kelas literasi english, semacam ekskul. Selama ini ekskul kami perkuat dengan kelas-kelas literasi di bawah bimbingan Pak Ares Faujian dan Bu Winda.

Ini akan dijadikan sebagai motor. Nanti mungkin akan ada kelas histori literasi. Tapi setidaknya ada pijakan untuk memulai. Karena literasi kita sekarang baru di tahap rutinitas, bukan kontinuitas apalagi kualitas.

Bagaimana menyiapkan siswa belajar, kalau dia miskin waktu untuk membaca. Bagaimana jadi penulis yang baik ketika dia bukan pembaca yang baik. Inilah yang namanya pilar utama bangun sekolah yakni literasi. Bagaimana beri ceramah yang baik ketika tidak pernah baca.

T: Literasi wajib bagi tenaga pendidik, sudah berapa buku terbit, mana paling sulit menyusunnya?

J: Buku pertama saya, judulnya Bus Patas. Seorang penulis di awal takut bukunya tidak bagus, saya pribadi nulis. Buku Bus Patas ini adalah karya tulis yang saya presentasikan pada pemilihan kepsek berprestasi. Alhamdulillaah laku 1000 eksemplar dan dapat penghargaan sebagai buku best seller.

Buku ini sudah sampai ke beberapa negara. Saya punya tradisi siapapun yang berkunjung ke sekolah saya, akan saya kasih buku ini. Buku terbaru saya yaitu Best Practice, itu buku yang ditulis ketika aku membuat karya tulis ilmiah dan juara lalu saya jadikan buku.

Jadi waktu ada bedah buku ada yang bilang, "Jika ingin melihat Gantung 20 tahun yang akan datang, baca buku Pak Sabar. Buku itu menggambarkan pendidikan di Gantung masa itu".

Itu buku pertama saya tulis alhamdulillaah best seller. Sebagian besar buku tentang riset. Karena pertama, di tengah keraguan, bagus atau tidak dan segala macam ternyata responnya bagus. Senang lah.

T: Buku-buku favorit, beri alasan?

J: Saya punya buku bacaan bagus yaitu Think Like a Genius karya Todd Siler. Orang pintar melakukan apa yang biasa orang lakukan. Orang cerdas lebih pintar dari orang pintar, namun orang jenius memikirkan apa yang tak pernah dipikirkan orang lain.

Buku itulah yang saya baca dan benar-benar terpatri. Kita pemimpin harus tidak biasa. Kalau kita biasa, itu jadi rutinitas dan tak ada kreatifitas di situ. Tapi tetap dalam batasan, tidak melanggar aturan namun memberi ruang.

Contoh, semua bangun taman, tapi kita harus punya sentuhan berbeda. Biar dilihat. Kelihatannya jadi cemoohan. Ir. Soekarno pernah bilang ada 3 tahap yang harus dilakukan agar suskes, yaitu ditentang, ditertawakan, dan diterima.

Untuk memulai harus diberikan rasa kepercayaan diri untuk ditentang. Siap-siap ditertawakan orang. Ketiga baru diterima. Kita selalu berada dalam zona nyaman. Keterbatasan itu yang harus diubah. Buku itu luar biasa menginspirasi. Saya juga suka baca buku orang hebat. Kalau ingin hebat baca buku jalan hidup orang hebat. Hebat itu melalui proses yang panjang bukan langsung jadi.

T: Pernah beberapa kali ke luar negeri, bisa diceritakan sistem pendidikan mereka?

J: Di Korea Selatan 2016 dan Australia 2019. Budaya belajarnya berbeda. Kalau kita di sini menunggu perintah. Contohnya, ketika guru memberi tugas tidak disertai dengan sumber bacaan yang baik. Buku kita yang wajib di perpustakaan dengan segala keterbatasan. Budaya kita beda.

Mereka budaya belajarnya jelas, ketika belajar ya belajar. Kalau kita tidak, libur mau belajar, pas belajar maunya libur.

Kemudian disiplin. Siswa masuk guru seharusnya guru cepat masuk. Mereka di luar budaya bacanya tinggi. Di Australia, setiap dua kelas ada satu perpustakaan. Saya nanya kenapa gitu? Karena bacaan di perpustakaan lebih utuh dan melewati proses uji yang panjang daripada sekedar ebook. Cikal bakalnya, budaya belajar, disiplin, literasi.

Ketiga karakter. Mereka sangat respek dan hormat. Kalo orang Jepang bangun jam 5 kita harus bangun jam 3 harus lebih awal dari mereka. Tingkat stress tertinggi pelajar di Korsel. Mereka dilengkapi dan difasilitasi pemerintah.

Tapi kalau anak-anak tidak siap dengan itu bisa jadi kebalikannya. Aib terbesar orang tua di Korsel yaitu anak dikeluarkan dari sekolah. Australia lebih demokratis. Tapi lebih tetap disiplin dan budaya belajar. Di sini kita sudah mulai untuk itu. Tahap menjadikan habituasi. Kebiasaan.

T: Target selanjutnya?

J: Kami itu mau juara internasional. Kelemahan kami akan dibenahi lewat karya tulis. Sebenarnya kami sudah mendatangkan narsum internasional, namun karena kondisi covid sehingga dibatalkan. Target harus tinggi. Makin dicemooh, saya makin semangat. Tak jadi masalah. Biar dikatain macam-macam semuanya mungkin. Yang tak mungkin itu kalau tidak berbuat. Kalau berbuat insyaallaah ada hasil.

Mohon dukungannya. Bisa juara internasional bidang olahraga, budaya, tidak mesti akademik. Kalau pendidikan diartikan nilai tinggi dan juara olimpiade, sempit, sedangkan dunia pendidikan itu luas. Pertukaran budaya, pejajar, guru berprestasi ke luar negeri, itu juga prestasi internasional. (S1)

 



Artikel ini disalin sepenuhnya telah tayang di posbelitung.co dengan judul Kisah Sukses Sabarudin, Tak Asing di Dunia Pendidikan Beltim Toreh Prestasi di Level Internasional, https://belitung.tribunnews.com/2020/07/26/kisah-sukses-sabarudin-tak-asing-di-dunia-pendidikan-beltim-toreh-prestasi-di-level-internasional?page=all.
Penulis: Bryan Bimantoro
Editor: Hendra

(Admin, HR)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tim SMAN 1 Manggar Kembali Ukir Prestasi

Gaung prestasi kembali terdengar dari SMAN 1 Manggar pada Kamis (23/09). Tim Akuntansi sekolah kebanggaan ini berhasil meraih juara kedua dalam Kompetisi Akuntansi dan Ekonomi Online Se

24/09/2021 10:00 WIB - Administrator
MEREVOLUSI GAYA PEMBELAJARAN SEJARAH

    Pembelajaran sejarah dewasa ini harus disajikan secara inovatif dan seimbang dengan perkembangan teknologi. Hal ini mutlak harus dilakukan terutama dala era Revolusi Indus

24/09/2021 09:57 WIB - Administrator
Sabarudin Ajak Masyarakat Paham Batasan Kebebasan Berekspresi

Kominfo kembali mendapuk Kepala SMAN 1 Manggar, Sabarudin sebagai narasumber dalam kegiatan webinar nasional pada Selasa (21/9). Acara yang merupakan bagian dari gerakan nasional litera

24/09/2021 09:49 WIB - Administrator
Positif Covid-19, 1 Orang Batal Ikut Tes PPPK Guru di Beltim

  Bupati Beltim Burhanudin memantau langsung seleksi PPPK Guru  di SMAN 1 Manggar, Senin (13/9). belitongekspres.co.id, MANGGAR – Satu orang peserta seleksi

17/09/2021 08:03 WIB - Administrator
Ketua DPRD Beltim Kobarkan Semangat Kepemimpinan Milenial OSIS SMAN 1 Manggar

SIS SMAN 1 Manggar melaksanakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di ruang serbaguna pada, Kamis (16/9). Acara yang akan digelar selama empat hari tersebut diisi oleh beberapa narasumber

17/09/2021 07:55 WIB - Administrator
Prestasi Nelsa Winanda Kokohkan “Gerbang Menulis” SMAN 1 Manggar

Dunia literasi SMAN 1 Manggar kembali bergema. Rabu (9/8), empat siswanya berhasil menjadi pemenang lomba menulis cerita rakyat tingkat SMA/MA/SMK. Sebut saja Nelsa Winanda dan Yurico

09/09/2021 21:29 WIB - Administrator
Ade Rio Pratama Sambut Tongkat Kepemimpinan OSIS SMAN 1 Manggar

Selasa (7/9), merupakan hari bersejarah bagi OSIS SMAN 1 Manggar. Ade Rio Pratama sambut tongkat estafet kepemimpinan OSIS baru di sekolah itu. Tepat pukul 07.00 WIB, Ade Rio Pratama be

07/09/2021 19:56 WIB - Administrator
Jadi Contoh Sekolah Lain, Seluruh Siswa SMAN 1 Manggar Siap Divaksin

Mendukung program pemerintah, SMAN 1 Manggar menjadi satu sekolah yang dilakukan vaksinasi Covid-19, Senin (6/9). Program Vaksinasi bagi pelajar ini berlangsung lancar yang di lakukan o

07/09/2021 19:52 WIB - Administrator
28.871 Warga Belitung Timur Sudah Divaksinasi dari Target 101.206 Orang

Vaksinasi Covid-19 terus berjalan demi menciptakan kekebalan komunal di masyarakat. Sampai saat ini sudah ada 28.871 orang di Belitung Timur yang mendapatkan do

07/09/2021 19:47 WIB - Administrator
Apakah Kita Masih dalam Pendidikan Tertindas?

Pendidikan merupakan tonggak atau pilar terpenting di dalam upaya untuk mencerdaskan generasi muda penerus bangsa. Sebagaimana tujuan tersebut tertuang di dalam UUD 1945  pada alin

02/09/2021 17:27 WIB - Administrator