• SMA NEGERI 1 MANGGAR
  • Totality Is The Key To Quality

Merespon Learning Loss dengan Komunitas Belajar

Akhir-akhir ini istilah learning loss mulai sering terdengar dari berbagai media. Learning loss dapat diartikan sebagai hilangnya kemampuan dan pengalaman belajar siswa sebagai akibat dari kurangnya frekuensi proses pembelajaran terutama pembelajaran tatap muka karena pandemi. Learning loss ini sebenarnya dihadapi oleh seluruh negara didunia karena tindakan penutupan sekolah. Sejak Maret 2020, sekolah-sekolah Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan mengikuti keputusan 4 menteri terkait sistem pembelajaran. Sejak itu pula, 68 juta anak indonesia tidak dapat belajar secara penuh dikelas (Kemendikbud, 2020). Sistem pembelajaran yang dilaksanakan bervariasi dari belajar daring secara total atau dikenal sebagai belajar dari rumah (BDR), atau mengaplikasikan kombinasi belajar tatap muka dengan sistem shift untuk mengurangi jumlah kerumunan pada satu tempat di waktu yang sama.

 

Menyikapi hal ini tentu saja kemendikbud tidak hanya berpangku tangan, berbagai mekanisme dipersiapkan agar dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa dari berbagai jenjang. Idealnya, pembelajaran jarak jauh menggunakan platform khusus dengan kreativitas guru membuat materi menarik adalah solusi jitu. Namun, sistem ini tidak dapat dilakukan begitu saja di semua sekolah mengingat masih terdapat banyak keterbatasan baik dari segi sumber daya maupun fasilitas yang mendukung. Sehingga belajar dititikberatkan pada menggunakan apa saja yang ada disekitar, tidak membebani siswa dan orang tua, serta tidak memaksa.

 

Namun ternyata, sistem yang telah dirancang inipun tetap saja menghasilkan efek lain yang disebut sebagai learning loss. Sistem pembelajaran jarak jauh atau pengurangan jam pembelajaran pada siswa berpotensi memperbesar disparitas perkembangan pembelajaran bagi masing masing siswa. Data terbaru menunjukkan sebanyak 47 persen sekolah menyatakan bahwa hanya 50 persen siswa yang dapat memenuhi standar kompetensi, 20 persen sekolah menyatakan hanya sebagian kecil siswa yang dapat memenuhi standar kompetensi yakni dibawah 50 persen (Republika, 2021). Meski sisanya menyatakan bahwa kondisi siswa sudah memenuhi standar namun jumlah yang dibawah standar tetap mendominasi. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman learning loss sudah kian tampak.

 

Kondisi ini muncul akibat dari kesenjangan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Jika ingin jujur, sebelum pandemi merebak pun kondisi pembelajaran dari satu daerah dengan lainnya memang sudah berbeda jika menyangkut fasilitas dan sumber belajar. Kondisi pandemi yang memaksa penggunaan teknologi disegerakan menambah disparitas yang sudah ada. Akses sumber belajar sangatlah terbatas untuk beberapa kalangan, mulai dari koneksi internet yang tidak mendukung di beberapa wilayah, paket data internet yang dianggap mahal dan merupakan kebutuhan tersier bagi banyak keluarga, serta kepemilikan gawai yang juga tidak mendukung untuk digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sudah dan terus berupaya diantaranya dengan menggelontorkan paket data belajar dalam berbagai bentuk namun masih belum mampu memenuhi semua kebutuhan siswa di Indonesia yang banyak jumlahnya. Selain itu, orang tua yang diharapkan menjadi pendamping utama di rumah juga mengalami kendala. Alasannya tidak semua orang tua dapat menjadi pendamping belajar atau katakanlah secara instan menjadi guru karena latar belakang pendidikan yang beragam dalam setiap keluarga.

 

Untuk menyikapi learning loss, pemerintah berencana melakukan pembukaan sekolah pada Juli yang akan datang. Sebenarnya pembukaan sekolah sudah dilakukan secara berangsung di setiap zona pandemi dengan mengikuti prosedur dan protokol kesehatan. Selain pembukaan sekolah, tentu saja yang harus ditekankan ialah pemulihan kemampuan belajar siswa yang selama ini telah terbiasa menggunakan kurikulum darurat. Siswa yang setiap hari hanya masuk beberapa jam dan kebanyakan mengikuti kelas daring serta mengerjakan soal dan tugas dari guru secara daring pula harus segera menyesuaikan untuk mengejar ketertinggalan.

 

Learning loss harus segera ditekan jumlahnya dengan mengembalikan semangat belajar siswa. Salah satu cara yang bisa digalakkan ialah membentuk komunitas belajar. Meski saat ini situasi memang tidak dapat diprediksi, komunitas belajar dapat dibentuk dalam jumlah yang terbatas. Katakanlah siswa membentuk kelompok belajar 4 hingga 5 orang dimana didalamnya melibatkan siswa yang memiliki keahlian untuk mata pelajaran tertentu agar dapat membantu rekan-rekannya (collaborative learning). Pembentukan komunitas belajar ini akan semakin efektif jika melibatkan guru mata pelajaran untuk membagi tiap kelompok karena gurulah yang memahami level kognitif siswa untuk tiap mata pelajaran. Komunitas belajar yang dibentuk dapat dijalankan secara tatap muka maupun daring. Jika memang harus bertemu langsung, ada baiknya kelompok kecil ini mengikuti protokol kesehatan secara ketat agar tidak menyebabkan permasalahan baru. Karena sebagian siswa masih sangat kesulitan untuk mengerti dan mengikuti pelajaran jika dilakukan secara daring. Komunitas belajar diharapkan dapat membuat siswa yang tidak mengerti materi bisa lebih leluasa bertanya apalagi jika dalam kelompok tersebut tersebut tidak ada guru didalamnya. Rasa sungkan, malu atau takut mengemukakan pendapat dapat dikurangi jika belajar dengan sesama teman sejawat.

 

Komunitas belajar bukanlah hal baru. Sejak zaman dahulu telah ada kelompok-kelompok belajar yang diciptakan namun sempat hilang dan tidak dilaksanakan karena dianggap tidak efektif atau kurang menarik. Namun, komunitas belajar ini sudah seharusnya digiatkan kembali agar siswa dapat memanfaatkan waktu di rumah untuk memahami lebih banyak sesuai dengan target atau bahkan melebihi standar kompetensi yang telah ditetapkan. Meski bagi sebagian siswa yang menyukai belajar sendiri komunitas belajar ini bisa saja dianggap menghabiskan waktu, keberadaannya akan sangat membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar.

Oleh: Winda Ari Anggraini

Guru  Bahasa Inggris SMAN 1 Manggar

Artikel ini telah terbit di harian Belitong Ekspres pada 30 April 2021

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Bantu Sesama Umat Manusia, SMA N 1 Manggar Bagi 300 Paket Bapok

SMA Negeri 1 Manggar kembali menggelar kegiatan sosial bertajuk Smansa Peduli. Kegiatan yang merupakan program kolaborasi OSIS dan ROHIS tersebut mengusung tema “Berbagi Asa di Ma

09/05/2021 19:05 WIB - Administrator
SMAN 1 Manggar Peduli Kumpulkan Donasi Ramadan Sebesar Rp36.174.000

Tidak berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, SMA Negeri 1 Manggar kembali menggelar kegiatan sosial bertajuk SMANSA PEDULI. Kegiatan yang merupakan program kolaborasi OSIS dan ROHIS terseb

09/05/2021 18:50 WIB - Administrator
BERBAGI ASA DI MASA PANDEMI, SMANSA PEDULI KEMBALI HADIR MENGETUK HATI

Tidak berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, SMA Negeri 1 Manggar kembali menggelar kegiatan sosial bertajuk SMANSA PEDULI. Kegiatan yang merupakan program kolaborasi OSIS dan ROHIS terseb

09/05/2021 18:35 WIB - Administrator
Momentum Memperkokoh Profesionalisme Guru

BERBICARA, Hari Pendidikan,  tak luput dari pembicaraan tentang peran penting  sosok  seorang guru. Proses pembelajaran di sekolah bisa terlaksana dengan baik dan afik be

04/05/2021 12:41 WIB - Administrator
Potret Laboran Handal Menjawab Tantangan Covid 19.

Pandemi Covid-19 telah banyak mengubah tatanan kehidupan manusia, tidak terkecuali bidang pendidikan. Cara pembelajaran yang awalnya tatap muka antara pendidik dan peserta didik harus b

04/05/2021 12:02 WIB - Administrator
Hindari Selebrasi Berlebihan, SMAN 1 Manggar Undang Orang Tua Umumkan Kelulusan

Kepala SMA Negeri 1 Manggar, Sabarudin mengatakan dalam mengumumkan kelulusan siswa tahun ini, ia hanya mengundang orang tua murid saja. Hal ini dilakukan supaya tidak ada ker

04/05/2021 11:54 WIB - Administrator
Siswa SMK Stania Juara Caramah Agama di Festival JOURNEY SMONE4U IN RAMADHAN SMA Negeri 1 Manggar

Ramadhan merupakan bulan suci yang hanya datang satu kali setahun. Bulan ini merupakan bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Moment inilah yang kemudian dim

30/04/2021 13:57 WIB - Administrator
Perkokoh Fondasi Keagamaan, SMA Negeri 1 Manggar Gelar Festival JOURNEY SMONE4U IN RAMADHAN

Ramadhan merupakan bulan suci yang hanya datang satu kali setahun. Bulan ini merupakan bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Moment inilah yang kemudian dim

30/04/2021 13:55 WIB - Administrator
MOMENT “HARDIKNAS” PERKUAT PERAN PENDIDIKAN DALAM PEMBUDAYAAN KARAKTER

PERINGATAN hari Pendidikan Nasional, tidak luput dari pembicaraaan tentang sejarah di Indonesia yang memiliki catatan  sangat panjang. Karena sejarah sendiri memang menjadi bagian

30/04/2021 13:46 WIB - Administrator
KEMBALI KE TRILOGI PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA

Dewasa ini banyak orang yang memandang bahwa karakter peserta didik semakin buruk dibandingkan dengan pendahulunya. Perkembangan teknologi dan pengaruh globalisasi menjadi salah satu pe

30/04/2021 13:41 WIB - Administrator